Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang mengatakan "Jodoh ditangan Tuhan", dan apakah sama dengan anda?. Salah satu kemerdekaan yang paling indah dalam hidup kita adalah kebebasan memilih. Sebagian orang menggunakan dan menyerahkan haknya untuk memilih dan dipilih, lalu mengharuskan orang lain untuk menjamin atau bertanggung jawab atas kualitas hidupnya. Karena Tuhan telah menyerahkan kepada kita sebuah tanggung jawab, marilah kita ambil dan jangan kita pisahkan "Jodoh" dari urusan lain seperti kesehatan, kedamaian hati, rejeki, dll.
Kalau kita berpikiran dengan tenang, tidak ada yang khusus dalam memilih jodoh, sama seperti kita memilih rumah/mobil. Hanya saja jodoh dampaknya panjang, karena salah satu kesalahan terbesar dalam hidup ini adalah salah mempercayai orang.
Gaya hidup di Kota-kota besar mempersempit diri kita untuk menjadi pribadi yang damai dan jatuh cinta pada kedamaian. Kalau kita sulit menemukan orang-orang untuk dicintai, maka perbaiki dulu diri kita dalam hidup ini supaya kita lebih mudah didatangi cinta. untuk para sahabat yang masih muda, berhati-hati lah dalam membangun nama, jika anda ingin membangun nama yang baik, gunakanlah nama yang akan dikenal sampai anda nanti menjadi seorang yang besar.
Jangan mengajari orang untuk mengabaikan anda, anda membutuhkan perhatian orang yang indah dan sepenuhnya dari orang lain. Nasib berada ditangan kita sendiri karena Tuhan telah memberikan kewenangan untuk mambangun nasib kita. Maka dari itu, salah jika anda menganggap bahwa nasib ditangan Tuhan. Apapun permasalahan yang akan terjadi nanti berasal dari perbuatan kita sendiri.
Sebetulnya bukan hanya nasib yang telah diserahkan kepada kita, tetapi yang paling kita jarang sadari adalah kelas dari nasib. Baik atau buruk nasib itu akan selalu ada, yang harus kita bangun adalah kelas dari nasib itu sendiri.
Itu sebabnya orang yang berilmu dinaikkan derajatnya satu atau dua tingkat, karena dengan ilmu dia akan meningkatkan kelas Life Style-nya, pilih-pilihannya, orang-orang yang dijadikannya panutan atau orang-orang yang dijadikan nya target perbaikan.
Kalau Tuhan sudah menyerahkan kewenangan nasib kepada kita, maka ambillah kewenangan itu. Ada suatu ketetapan, "Wanita baik-baik untuk pria yang baik-baik, wanita yang keji untuk pria yang keji". Jika ada yang mengatakan "Saya wanita baik-baik, kenapa berpasangan dengan lelaki yang keji?".
Pertama, dia harus instropeksi, bahwa dia harus memperbaiki diri. Keluhan kita mengenai pasangan, mungkin lebih baik dihentikan. Kalau kita merasa pasangan kita tidak menghormati kita, jadilah pribadi yang pantas dihormati. Karena hukumnya adalah "Wanita terhormat akan dipasangkan dengan Pria terhormat".
Kedua, kata keji bisa berarti orang baik yang membiarkan dirinya disiksa, itu telah berlaku keji kepada dirinya sendiri. Karena wanita yang terbaik dan yang paling pantas untuk dimiliki, tidak bisa dimiliki. Karena wanita itu sangat mandiri, kuat, dan tegas. Tidak mungkin laki-laki berani sembarangan memperlakukannya.

No comments:
Post a Comment